Natal pasca pembunuhan di Sigi: Suruhan 'kasihilah musuhmu' dan dukungan masyarakat Muslim untuk atasi trauma
News

Natal pasca pembunuhan di Sigi: Suruhan ‘kasihilah musuhmu’ dan dukungan masyarakat Muslim untuk atasi trauma

3 tanda yang lalu

Tumbuhan jagung sudah siap dipanen & biji-biji kopi berjatuhan di desa, namun tak ada tangan-tangan yang memungut.

Itulah kondisi di Desa Lenowu di Desa Lembantongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tenggara, yang ditinggal penduduknya setelah insiden pembantaian utama keluarga akhir November lalu.

Cuma ada petugas keamanan yang berlalu-lalang dengan senjata laras panjang untuk mengamankan daerah itu.

Rumah-rumah yang sebelumnya dibakar kini sudah dibangun dan siap dihuni. Namun, warga belum berani menempati wilayah itu.

Suasana itu kontras dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya. Pra Natal, biasanya warga mengadakan sejumlah kegiatan peribadahan.

Kini, mereka sedang mengungsikan diri ke Pusat Daerah Lembantongoa, yang jaraknya sekitar delapan kilometer dari lokasi kejadian.

‘Masih takut’

Mece, 33, belum bisa berbicara penuh tentang peristiwa yang merenggut menghabisi ayahnya, Yasa, dengan sadis.

Yasa dan tiga orang anggota keluarga yang lain dibantai hingga tewas oleh sekelompok orang, yang oleh pemerintah dikenal dilakukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora.

Serbuan di Dusun Lenowu itu serupa diikuti pembakaran sejumlah rumah warga. Satu diantara yang dibakar adalah rumah yang biasa dipakai umat Nasrani setempat untuk beribadah.

Ketika ditemui kuli Eddy Junaedi yang melaporkan buat BBC News Indonesia, di Sentral Desa Lembantongoa, Mece hanya mengutarakan dia berharap pembunuh ayahnya mampu ditangkap.

“Harapan kami supaya lekas ditangkap, supaya kami senang, tak sungkan lagi. Kami sudah berterima kasih pada pemerintah, warga-warga dengan sudah membantu kami, kami mohon apresiasi sebanyak-banyaknya, ” kata Mece.

Keluarga Mece merupakan jemaat Gereja Bala Keselamatan di Desa Lembantongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Kejadian yang menimpa keluargannya tak hanya meninggalkan pengalaman traumatis bagi Mece, tapi juga umat Nasrani lainnya di desa itu.

Alvianus, salah seorang Nasrani di provinsi itu, yang cukup akrab secara keluarga Yasa, juga masih mengalami trauma.

“Sesudah kejadian itu, kami masih banyak rasa takut. Warga selalu kumpul-kumpul di tempat penuh agar tidak takut, ” katanya.

Kini, mereka pun beribadah secara bergantian.

Saat sebagian jemaat berdoa, dengan lainnya bersiaga di luar bangunan untuk menjaga keamanan.

Pesan untuk tidak mendendam

Menjelang Natal, pendeta Bala Keselamatan Desa Lembantongoa, Arnianto Mpapa, melihat kondisi jemaat yang masih tertumbuk dengan peristiwa itu.

Ia mengucapkan terus berupaya memberi penghiburan dan pengajaran pada jemaat bahwa meski sulit, agama mengajarkan mereka untuk tidak mendendam.

“Kita arahkan mereka untuk tetap tinggal tenang, tak perlu ada pikiran untuk menanggapi. Saya bicara tentang dasar keyakinan orang Kristen. Dasar keyakinan ana adalah pengajaran mengenai kasih.

“Kita kasihi siapa pun tak memutuskan siapa dia, ” ujar Arnianto.

Inti khotbahnya untuk Natal tahun ini, kata Arnianto, juga mengenai berkelakar.

“Dalam firman Tuhan disebutkan ‘kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu’. Kami dituntut untuk mengasihi musuh. Tidak tersedia wewenang bagi kita memberi hukuman. Kita diminta berdoa agar itu [para pelaku] diberi kesadaran, ” kata Arnianto.

Lalu, apakah jemaat bisa memaafkan para pelaku?

Mece, putri korban yang meninggal hanya menjawab singkat.

“Semua manusia saling memaafkan, ” ujarnya.

Tetapi, bagi jemaat lain seperti Alvianus, memaafkan masih merupakan hal dengan sulit. Ia hanya berharap bisa merayakan Natal tahun ini secara aman.

“Kami selalu mendoakan supaya kami diberikan kekuatan, serta mendoakan pihak polisi dan tentara yang sedang melakukan Operasi Tinombala supaya diberikan kekuatan biar cepat menangkap para pelaku, ” ujarnya.

Dukungan umat Muslim – “Yang melakukan kegiatan keji, tak wakili agama manapun”

Arifin, salah seorang warga Desa Lembontongoa yang beragama Islam mengatakan bahwa pasca kejadian itu, warga langsung turun tangan membantu tim korban.

“Kami di sini sepakat bahwa yang melakukan tindakan keji itu tidak mewakili agama mana pula. Kami, sejak kejadian hingga keadaan ini, bersama dengan teman-teman lainya membantu keluarga korban dengan semampu kami, ” ucapnya.

Dengan keterbatasan materi yang ada, Arifin mengucapkan warga non-Nasrani membantu para korban dengan ikut membangun rumah-rumah mereka yang hancur.

Dalam perayaan Natal suatu gereja di desa itu, Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST), Jemaat Yarden, misalnya, umat Muslim ikut mengamankan acara yang diadakan tanggal 19 Desember itu.

“Kami warga yang Muslim bersama polisi & tentara menjaga keamanan dan kesejukan ibadah saudara kami yang beragama Kristen dalam menjalankan ibadah Natal.

“Kegiatan ini sudah berlangsung lama, sebelum kejadian itu, ” cakap Arifin.

Sarman, seorang Muslim di kawasan itu, juga menceritakan kondisi toleransi warga.

Saat pemakaman korban rumah potong lalu, misalnya, jumlah umat Muslim yang hadir di pemakaman mengatasi, kata Sarman.

“Kerukunan sangat baik di daerah ini barangkali bisa dijadikan contoh. Kami tak sudah ada konflik, ” katanya.

Kejadian ini diamini pula pendeta Bala Keselamatan Arnianto Mpapa.

“Warga Muslim dan warga Kristen bercampur bergabung sejak kejadian hingga pemakaman para korban. Kami di sini silih membantu dan itu hal dengan luar biasa di Lembantongoa, ” katanya.

‘Niat memantik perpecahan horisontal’

Penyerangan ini terjadi di pusat operasi yang dilakukan Satuan Suruhan Operasi Tinombala untuk mengatasi golongan Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Patuh Noor Huda, pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, kelompok itu memilih paksa mendekati Natal untuk memperoleh dukungan yang lebih luas dan memantik perpecahan horisontal.

Menurutnya, serangan itu, harus dipandang serius oleh pemerintah sebab kelompok itu mencoba membangkitkan luka lama sektarian.

Ia pun menyarankan pemimpin agama untuk saling membuktikan solidaritas.

“Saya kira pemimpin agama dua kubu harus sama-sama berbicara bahwa terorisme tidak mengenal agama dan ras. Yang mayoritas harus tunjukan solidaritasnya, misalnya, dengan menjaga gereja, ” kata Noor Huda.

Tak mau tenggelam dalam jarang

Di Desa Lembantongoa, Yospianda, seorang warga yang berusia 80 tarikh mengatakan ia berharap Natal mendatangkan hari-hari yang lebih baik pada masa depan.

“Mudah-mudahan kita mendapat keselamatan, kesejahteraan dalam menghadapi Natal ini supaya bisa melangkah tahun 2021 dengan sukacita, jangan kita berduka terus, kita tanggalkan itu, ” ujarnya.

Ia juga mengimbau warga untuk tak lagi takut beraktivitas, seperti berkebun, karena banyaknya aparat keamanan yang menjaga daerah tersebut.

Yospianda juga mengatakan ia akan mengampuni pelaku yang membunuh nyawa keluarga Yasa, yang zaman sering dibantunya untuk memetik hasil tanaman kopi.

“Dalam kitab kudus dikatakan kita harus mengampuni utama sama lain. Saya memaafkan para-para pelaku, walau kami belum melihat mereka, ” pungkasnya.